Indonesia Stock Market News


Posted in Uncategorized | Leave a comment

Intro idturtle.com – Turtle Trading System untuk Saham di Bursa Indonesia

Turtle Trading System idturtle.com adalah sebuah trading system yang diadaptasi untuk pasar saham di Indonesia, dengan karakteristik sebagai berikut:

  1. Market: saham yang diperjual belikan dibagi menjadi 3 kategori berdasarkan likuiditas/nilai rupiah transaksi atas saham-saham tersebut: i)Super Liquid – saham-saham yang pada hari itu nilai rupiah transaksinya melebihi Rp 100 milyar; ii)Liquid – saham-saham yang pada hari itu nilai rupiah transaksinya antara Rp 10-100 milyar; dan iii)Not So Liquid – saham-saham yang pada hari itu nilai transaksinya kurang dari Rp 10 milyar.  Urutan prioritas saham-saham untuk ditransaksikan adalah berdasarkan kategori likuiditas ini, dengan prioritas tertinggi pada saham-saham yang Super Liquid.
  2. Besar Posisi: Turtle Trading System idturtle.com merekomendasikan Besar Posisi untuk sebuah saham dengan memperhitungkan volatilitas dari saham tersebut, dan tentunya, besar portfolio. Setiap rekomendasi beli selalu untuk 1 Unit, dimana 1 Unit dihitung sebagai 1% dari nilai total portfolio dibagi dengan Volatilitas saham yang dimaksud.  Idturtle.com juga membatasi jumlah Unit yang dapat dimiliki, sebagai upaya diversifikasi. Untuk satu saham, maksimal 4 Unit. Untuk satu industry, maksimal 6 Unit.
  3. Entry: Turtle Trading System idturtle.com merekomendasikan untuk masuk jika harga penutupan saham berhasil menembus “break out”. Kriteria break out yang diterapkan pada idturtle.com sangat sederhana: harga berhasil menembus harga tertinggi 20 hari sebelumnya. Selanjutnya, idturtle.com merekomendasikan untuk menambah posisi yang sudah ada, jika masih belum kena batasan jumlah Unit, jika harga terus naik. Besar kenaikan untuk menambah adalah sebesar nilai Volatilitas saham tersebut. Jika ada beberapa saham yang break out pada hari itu, idturtle.com akan me-ranking saham-saham tersebut berdasarkan Strength/kekuatan dari break-outnya, yang diukur dari poin kenaikan dibandingkan dengan Volatilitas saham tersebut. Saham yang kekuatan break outnya paling tinggi tentunya mendapat prioritas yang lebih tinggi.
  4. Stops: Turtle Trading System idturtle.com merekomendasikan untuk Exit dari sebuah posisi jika harga turun dengan penurunan yang melebihi 1/2 kali Volatilitas saham tersebut. Jadi, jika setelah sebuah saham break out, dan direkomendasikan untuk dibeli, saham tersebut kemudian berbalik arah dan turun lebih dari 1/2x Volatilitasnya, maka idturtle.com merekomendasikan untuk Cut Loss. Parameter kelipatan berapa dilakukan Cut Loss juga dapat diubah – antara 1/2x hingga 2x – tergantung seberapa agresif/tahan melihat posisi merugi.
  5. Exit: Turtle Trading System idturtle.com merekomendasikan untuk Exit dari sebuah posisi jika harga turun dengan penurunan yang melebihi 2 kali Volatilitas saham tersebut. Jadi, jika setelah membeli beberapa Unit, trend kenaikan harga kemudian berubah, dan saham turun lebih dari 2x Volatilitas saham tersebut, maka idturtle.com merekomendasikan untuk menjual semua Unit saham tersebut yang dimiliki dalam portfolio.

Konsekuensinya adalah kita disiplin dalam cut loss, kita ikuti saham yang naik (dan bahkan menambah posisi). Ketika menjual untuk take profit, kita selalu jual tidak dalam posisi tertinggi.

Happy Turtle Trading…

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Intro Trading System

Intro Trading System

Sederhananya, sebuah trading system membantu seorang trader untuk bisa mendapatkan profit yang maksimal. Komponen dari sebuah trading system terdiri dari:

  1. Market: apa yang akan diperjual belikan – saham, forex, bonds, derivative, dan sebagainya. Sebuah system yang bagus dan sangat efektif untuk satu market belum tentu cocok untuk market lainnya; atau kalaupun dapat digunakan, pastinya memerlukan adaptasi.
  2. Besar Posisi: pada saat melakukan sebuah trade, berapa besar posisi yang akan diambil. Salah satu penentu utama besar sebuah posisi tentunya adalah berapa besar dana yang ada di portfolio itu sendiri, baik dana tunai maupun dana yang dapat diakses dengan marjin. Trading system yang lebih kompleks juga akan melihat instrumen yang diambil posisinya – posisi untuk saham yang likuid dengan yang tidak likuid, atau antara instrumen yang volatilitas/gerakan hariannya tinggi dengan yang rendah, mungkin akan berbeda.
  3. Entry: apa indicator untuk melakukan transaksi beli.  Pada umumnya trading system bergerak dari technical analysis dari chart instrumen yang akan dijual belikan. Trading system juga dapat merekomendasikan kapan untuk menambah posisi yang sudah ada.
  4. Stops: apa kondisi sehingga saham/instrumen yang sudah dibeli harus dijual dalam kondisi loss/rugi. Pentingnya dan keberanian untuk cut loss bagi banyak trader menjadi penentu untung tidaknya portfolio trader tersebut. Posisi kapan untuk cut loss ini bisa sederhana dalam bentuk persentase kerugian (misalnya, cut loss kalau turun 5% dari harga entry). Trading system yang lebih kompleks akan memperhitungkan juga volatilitas instrumen yang ditransaksikan – instrumen yang volatilitas/geraknya banyak tentunya stop lossnya akan lebih besar daripada instrumen yang relative tenang/stabil.
  5. Exits: apa kondisi untuk menjual / melikuidasi posisi yang dimiliki. Saham/instrumen yang sudah naik banyak, apakah sebaiknya ditahan untuk menikmati keuntungan yang lebih besar? Atau kalau ingin dilikuidasi, apa kondisinya?
  6. Taktik: dalam implementasinya, eksekusi beli atau jual sendiri dapat menggunakan taktik yang berbeda. Apakah kalau mau beli langsung ‘tabrak’ di harga offer? Kalau mau antri beli di bid atau antri jual di offer, pada posisi mana yang optimal?

Trading system yang bagus akan membantu seorang trader untuk memaksimalkan keuntungan yang bisa dia peroleh. Namun demikian, eksekusi dari sebuah trading system, tetap tergantung pada pribadi trader yang bersangkutan – disiplin, psikologis dan faktor manusiawi lainnya.

Happy Turtle Trading…

Posted in Uncategorized | Leave a comment